Doa Sholat — Sholat merupakan salah satu rukun Islam dan merupakan pilar dari Agama. Sholat ada hukumnya fardhu atau wajib dan ada yang hukumnya sunnah atau mandub. Yang fardhu sendiri ada yang fardhu ain atau wajib kepada setiap individu dan fardhu kifayah, yaitu apabila sudah ada yang mengerjakan maka hilanglah kewajiban bagi yang lain.
Sholat yang fardhu ain adalah sholat lima (5) waktu: Shubuh (Fajar), Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isyak. Sholat lima waktu diperintahkan oleh Allah SWT ketika Nabi sedang melakukukan israk dan mi’raj.
Israk adalah perjalanan di malam hari, sedangkan mi’raj adalah perjalanan menuju langit untuk bertemu dengan Allah SWT. Sebelum munuju ke langit sendiri Nabi terlebih dulu melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjid Aqhsa di Palestina hari ini. Perjalanan tersebut dilakukan dalam semalam.
Pada saat itu perjalanan dari Mekkah ke Palestina, atau yang dahulu masuk ke wilayah Syam, memerlukan waktu berhari-hari. Oleh karenanya masyarakat Mekkah yang menentang Nabi tentu merasa mendapatkan amunisi untuk menyerang Nabi karena dianggap membuat cerita yang tidak masuk akal. Apalagi kemudian ditambah dengan cerita bahwa Nabi melakukan perjalanan ke langit, sesuatu yang lebih mustahil.
Peristiwa israk dan mi’raj sendiri terjadi setelah ‘Amul Huzni atau tahun kesedihan karena nabi ditinggal oleh dua orang penting bagi hidup dan dakwah beliau, yaitu Abu Thalib dan Khadijah. Abu Thalib merupakan paman Nabi yang mengashuhnya sepeninggal kakek beliau Abdul Muthallib. Abu Thalib merupakan pembesar Quraisy yang melindungi Nabi dari gangguan orang-orang yang tidak percaya dengan ajarannya.
Sedangkan Khadijah merupakan istri nabi yang memberikan moril, spiritual dan juga materi terhadap dakwah Nabi. Khadijah merupakan wanita pertama yang mengimani apa yang dibawa oleh Nabi.
Orang-orang kafir Quraisy menganggap Muhammad SAW gila karena tekanan dan ditinggal dua orang penting dalam hidupnya dan mengarang-mengarang cerita tentang israk dan mi’raj.
Di tengah hujatan dan hinaan kelompok yang dari awal memang percaya serta keraguan yang muncul di sebagian pengikut, Abu Bakar dengan tegas mempercayai dan membenarkan israk dan mi’raj Nabi. Apa yang dilakukan oleh Abu Bakar ini bisa menghilangkan keraguan sebagian pengikut. Karena pembenaran yang dilakukan olehnya maka Abu Bakar dijuluki dengan Al-Shiddiq atau orang yang membenarkan.
Peristiwa israk mi’raj ini tentu sangat penting karena menjadi dasar pijakan perintah sholat 5 waktu. Kalau untuk perintah sholat sendiri tentu tidak tergantung pada peristiwa israk dan mi’raj karena banyak redaksi Qur’an maupun Hadits Nabi yang memerintahkannya.
Para ulama berbeda pendapat mengenai peristiwa ini. Ada yang memahaminya secara harfiah, dan ada yang memahami bahwa Nabi tidak berisrak dan bermi’raj secara harfiah.
Wallahu A’lam Bil Shawab.